PANCUR BATU,analisisimedia.com - Keresahan warga Kampung Tengah, Kecamatan Pancur Batu, kian memuncak. Usai lolos dari penyisiran petugas Polsek Pancur Batu pada Senin malam (02/03) lalu, dua terduga bandar narkoba berinisial O alias Ngat dan Sa alias Leh bukannya tiarap, melainkan semakin "licin" bak belut dalam menjalankan bisnis gelapnya.
Berdasarkan pantauan dan laporan terbaru dari masyarakat, kedua pelaku kini mengubah taktik agar tidak mudah digerebek oleh pihak kepolisian. Jika sebelumnya mereka leluasa beroperasi di sekitar Area Kuburan Kampung Sampak Kuning dan simpang empat, kini mereka menerapkan sistem mobile alias berpindah-pindah tempat.
Modus Baru: Berpindah Lapak hingga Transaksi Sembunyi-Sembunyi
Strategi kucing-kucingan ini diduga kuat dilakukan untuk mengecoh petugas sekaligus memastikan pasokan "narkoboy" tetap mengalir tanpa hambatan.
Warga mencatat ada beberapa titik rawan baru yang kini kerap dijadikan lokasi transaksi oleh jaringan ini:
* Lokasi ini rutin disinggahi dan diduga dijadikan tempat pemantauan sekaligus titik pertemuan kilat antara pengedar dan pembeli.
* Kondisi ini yang paling memicu kemarahan warga. Di tengah suasana bulan suci, para pelaku dengan berani mengedarkan barang haramnya di sekitar rumah ibadah, menodai kekhusyukan masyarakat sekitar.
* Untuk menghindari pantauan di area terbuka, pelaku kini juga melayani pelanggan secara sembunyi-sembunyi dari dalam sebuah rumah,
Uang dan barang haram tersebut hanya dipertukarkan dengan cepat melalui celah jendela.
> "Mereka ini makin pintar tapi makin tidak ada otaknya. Masa di dekat mesjid Pajak Pancur Batu pun mereka berani transaksi? Kadang nongkrong di kedai tuak Pokok Manggis, kadang dari dalam rumah lewat jendela saja ngasih barangnya. Kalau aparat cuma datang menyisir pakai seragam, sampai kapanpun mereka nggak akan tertangkap karena sudah kabur duluan," keluh salah seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan, Minggu (08/03).
>
Menanti Taktik Jitu Polsek Pancur Batu
Taktik berpindah-pindah dan memanfaatkan celah-celah pemukiman ini membuat warga semakin pesimis jika aparat hanya mengandalkan patroli terbuka. Keberanian para pelaku—terutama menjadikan area dekat rumah ibadah sebagai jalur transaksi—seolah menantang wibawa penegak hukum secara terang-terangan.
Masyarakat kembali mendesak Kapolsek Pancur Batu, Kompol Junaidi S.H., dan Kanit Reskrim IPTU Rudi Salam Tarigan untuk segera mengubah strategi. Warga meminta polisi menerjunkan tim intelijen atau petugas berpakaian preman untuk menyergap langsung ke titik-titik transaksi tersebut sebelum pelaku sempat memindahkan lapaknya.
Publik kini menunggu pembuktian nyata dari aparat kepolisian.
Pertanyaannya, mampukah Polsek Pancur Batu membekuk O alias Ngat dan Sa alias Leh yang kini semakin licin, atau jaringan ini akan terus bebas merusak generasi muda di Pancur Batu?
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perubahan modus operandi para pelaku.
Selain kepolisian, warga juga menyoroti peran perangkat desa dan aparat teritorial setempat yang dinilai perlu turun tangan! mengatasi keresahan ini.
Demi menjaga keberimbangan informasi (cover both sides) dan mencari solusi atas keresahan warga, Awak Media telah berupaya melakukan konfirmasi resmi kepada sejumlah pemangku kepentingan di wilayah tersebut.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, Danramil 0201-14/PB Kapten Arm Eddy Hutabarat, SH, MH, maupun Kepala Desa Kampung Tengah, Pancur Batu, Ebenezer Pelawi, belum membalas konfirmasi wartawan.
Setali tiga uang, Kapolsek Pancur Batu Kompol Junaidi, S.H juga belum memberikan tanggapan resmi.
Bungkamnya sejumlah unsur Muspika dan perangkat desa ini sangat disayangkan oleh masyarakat. Warga berharap ada sinergi nyata yang segera ditunjukkan oleh pihak Kepolisian, Koramil, maupun aparat desa. Mereka menanti langkah tegas dan terukur agar O alias Ngat dan bosnya Sa alias Leh tidak lagi bebas meracuni generasi muda dan merusak ketenteraman Kampung Tengah, terutama di bulan suci ini. (Tim)




