Medan(AM)—Kemerdekaan Indonesia di usia 81 tahun bukan sekadar perayaan tentang panjangnya perjalanan sebuah negara.
Kemerdekaan juga menjadi momentum untuk bertanya: masihkah kita menjadi bangsa yang mengenal dan menjaga jati dirinya?
Indonesia merdeka bukan hanya karena terbebas dari penjajahan. Indonesia merdeka karena memiliki identitas yang kuat. Identitas itu tumbuh dari bahasa, adat istiadat, seni, tradisi, nilai-nilai agama, serta kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, menjaga adat dan budaya sesungguhnya merupakan bagian dari menjaga kemerdekaan itu sendiri.
Dr. M. Yoserizal Saragih. M. I. Kom didampingi Dr. A. Rasyid, MA dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara mengemukakan, Senin, disela sela peringatan HUT ke 81 RI kampus Jalan Williem Iskandar Medan Estate.
Dikatakannya, di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan kebudayaan semakin kompleks. Anak-anak muda lebih mudah mengenal budaya asing melalui media sosial dibandingkan mengenal tradisi yang hidup di kampung halamannya. Musik, gaya berpakaian, bahasa pergaulan, hingga pola hidup mengalami perubahan begitu cepat.
Perubahan tentu tidak selalu buruk.
Kebudayaan memang harus berkembang mengikuti zaman. Namun, modernisasi tidak boleh membuat kita kehilangan akar. Bangsa yang maju bukan bangsa yang meninggalkan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu membawa warisan masa lalu menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan, kata Yoserizal Dosen Jurnalistik ini
Menurut Yoserizal, adat dan budaya juga mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan. Di dalam tradisi masyarakat Indonesia terdapat semangat gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta penghargaan terhadap alam. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk menjawab persoalan kehidupan modern yang semakin individualistis.
Dalam konteks masyarakat Melayu, misalnya, adat bukan sekadar seremonial. Di dalamnya terdapat tuntunan tentang sopan santun, hubungan antarmanusia, penghormatan kepada tetua, dan keseimbangan antara kehidupan sosial dengan nilai agama.Demikian pula berbagai tradisi masyarakat Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh, Sunda, Bugis, Dayak, Papua dan berbagai etnis lainnya. Semuanya merupakan mozaik yang membentuk wajah Indonesia, kata Yose penuh serius.
Ditegaskannya, tugas menjaga budaya tidak cukup dibebankan kepada pemerintah. Keluarga, sekolah, kampus, tokoh adat, ulama, seniman, media massa, hingga generasi muda memiliki tanggung jawab yang sama.
Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali budaya lokal.
Bukan sekadar melalui pelajaran teori, tetapi melalui praktik: mengenal bahasa daerah, permainan tradisional, seni, sejarah lokal, kuliner, hingga tradisi masyarakat, tambah Rasyid, Dosen membidangi media dan komunikasi massa itu.
Rasyid berharap, Media sosial pun seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang kreatif untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada dunia.
Di sinilah kemerdekaan menemukan makna yang lebih dalam. Merdeka berarti memiliki kebebasan untuk menentukan masa depan tanpa kehilangan identitas. Kita boleh modern, tetapi tidak harus tercerabut dari akar. Kita boleh mendunia, tetapi tetap bangga menjadi Indonesia, timpal Yose pula dengan santainya.
Rasyid berharap, peringatan 81 tahun kemerdekaan hendaknya tidak berhenti pada upacara, perlombaan, dan kemeriahan sesaat. Lebih penting dari itu adalah menumbuhkan kesadaran bahwa kebudayaan merupakan warisan sekaligus amanah.
Jika adat dan budaya tetap hidup, maka Indonesia tidak hanya memiliki masa depan, tetapi juga memiliki jati diri. Sebab bangsa yang kehilangan budaya akan mudah kehilangan arah, katanya dengan tenang.
' Pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, mari kita teguhkan kembali komitmen: merawat adat, menjaga budaya, memperkuat persatuan. Merdeka bukan berarti melupakan akar. Justru karena merdeka, kita memiliki kesempatan untuk menjaga warisan leluhur dan mewariskannya kepada generasi berikutnya, "ucapnya
Indonesia boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi jati diri bangsa harus tetap berdiri, tegas Yoserizal, WD 3 FIS itu






